Showing posts with label Kopi Kalosi. Show all posts
Showing posts with label Kopi Kalosi. Show all posts

Tuesday, November 25, 2014

Ketika Kopi Memicu Perang

Channel Kopi - Enrekang adalah area purba yang dikenal sebagai tanah Lixisol Podzolik. Keberadaan perkebunan rakyat di Enrekang dan Toraja mulai dikenal sebagai penghasil kopi Kalosi sejak 1750.

Pada abad XIV, keberadaan perkebunan kopi arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, porselen, tembikar, dan kain untuk ditukar dengan kopi.

Tahun 1887-1888, pasar kopi di Toraja didominasi oleh Kerajaan Luwu. Saat itulah terjadi apa yang kemudian disebut sebagai Perang Kopi I, di mana terjadi persaingan antarsesama pedagang untuk merebut sumber kopi. Persaingan ini menimbulkan banyak kerusakan di Toraja.

Pasukan Kerajaan Bone, di bawah pimpinan La Maddukelleng Petta Ponggawa, memasuki Toraja pada 1898. Kedatangan pasukan Bone mengakibatkan pecahnya Perang Kopi II, karena masyarakat Toraja bersama Puang Tallu Lembangna melakukan perlawanan.

Tahun 1890, La Tanro Puang Mallajange ri Buttu Mario, Raja Agung Enrekang XVI, menghentikan perang kopi dan mengatur tata niaga baru perdagangan kopi di Toraja dan Enrekang. Kerajaan Enrekang dan Kerajaan Tallu Lembangna takluk pada pasukan Belanda pada 1906.

Penjajah kemudian membangun onderneming di Bolokan dan Pedamaran. Selanjutnya, pada 1912, tata niaga kopi Toraja dilaksanakan oleh saudagar Cina, di antaranya oleh Baba Pamarrasadan, Kwie Tjai Hin dan Ing Goe An.

Pada 1976, perusahaan bentukan Jepang membuka perkebunan kopi di Pedamaran yang dikenal dengan PT Toarco Jaya induk perusahaan Key Coffe Inc. Inilah perusahaan yang memperkenalkan kopi Toraja ke pentas perdagangan internasional.

Peneliti genetik kopi dari Universitas Hasanuddin Andi Ilham Latunra mengatakan masih terdapat pohon induk Tipika yang berusia 250 tahun di Toraja dan Enrekang. Kopi Tipika alias arabika Tipika itu dikenal juga sebagai kopi Kalosi.

Monday, October 20, 2014

Tujuh Produk Kopi Indonesia Diakui Pasar Internasional

Channel Kopi - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, tujuh produk kopi Indonesia diakui oleh dunia internasional. 

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak mengatakan, tujuh single-origin speciality coffee Indonesia yang diakui tersebut adalah Kopi Gayo (Aceh), Kopi Java Preanger (Jawa Barat), Kopi Ijen (Jawa Timur), Kopi Kintamani (Bali), Kopi Bajawa (Flores, NTT), Kopi Toraja (Toraja, Sulsel), dan Kopi Kalosi (Enrekang, Sulsel).

Nus melanjutkan, dalam kegiatan EXPRO on Food Ingredients 2014 yang berlangsung di Prancis dan Jerman, memilih sektor specialty coffee sebagai produk unggulan food ingredients Indonesia.

"Produk ini akan didorong ekspornya secara khusus oleh pemerintah dan asosiasi bekerja sama dengan CBI didasarkan pada unique selling points kopi Indonesia yang memiliki banyak jenis kopi dengan indikasi geografi(single-origin coffee)," jelas Nus dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (19/10/2014).

Peserta Indonesia untuk kegiatan EXPRO on Food Ingredients 2014 terdiri dari 16 perusahaan food ingredients, perwakilan Kementerian Perdagangan cq. Ditjen PEN, perwakilan Kementerian Perindustrian, dan perwakilan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI).

Keikutsertaan Kementerian Perdagangan bersama dengan Kementerian Perindustrian, AKSI, dan lembaga terkait lainnya dalam kegiatan ini bertujuan memfinalisasi penyusunan dokumen Sector Export Marketing Plan on Specialty Coffee yang merupakan salah satu target dari kerja sama antara Ditjen PEN dan CBI. 

Adapun, 16 perusahaan tersebut adalah perusahaan yang telah lulus seleksi CBI untuk mengikuti CBI Export Coaching Program, yaitu PT Profil Mitra Abadi, PODA Cooperative, Aliet Green, PT Yuasa Berkah Makmur, CV Ateutamount, PT Haraka Kitri Endah, Coffee Luwak of Bintuhan, PT Essaroma Indonesia, PT Gunung Hijau Masarang, CV Gayo Mandiri Coffee, PT Mitra Kerinci, KSU Bale Dana Mesari, PT Visi Karya Agritama, Koperasi Mitra Malabar, PT Latransa Citra, dan CV Inkoi Rajawali.